Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Don't Give Up Chapter XIII

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Don't Give Up Chapter XIII

    Post  ambrochius on Tue Jan 27, 2009 8:19 pm

    Chapter XIII Quo Vadis?


    “Ambro, minggu ini kita tidak mengisi koor di Misa nanti”, Bruder Marco memelukku dari belakang seraya mencium kepalaku dengan lembut, sementara aku duduk di mejanya membaca sebuah buku “Gita Sang Surya” tentang seorang santo yang mendapatkan stigmata (luka pada tubuh Yesus) karena cintanya pada Tuhan. Tanpa kutanya mengapa karena aku masih terpaku pada jejeran puisi Sang Santo, bruder Marco melanjutkan, “Ada frater-frater dari Seminari Menengah Wacana Bhakti yang akan mengisi paduan suara pada minggu panggilan kali ini”, beliau menambahkan. Paduan Suara Panti Asuhan Vincentius Putra memang kerap mengisi jadwal koor pada minggu tertentu di gereja Kramat, kali ini aku mengangguk, tanda mengerti akan pernyataan Bruder Marco. Ini tahun keduaku di SMP. Tahun yang tidak terlalu sulit secara kurikulum namun juga tidak begitu mudah untuk dilewati secara pribadi bagiku. Ada Bruder Marco yang mengisi kekosongan hatiku di Panti, tak ketinggalan sekarang ada Aldi yang menjadi pacar gelapku di sekolah. Gila! Masih bau kencur sudah mendua, dengan sesama jenis pula.

    “Frater boleh saya minta copy lagu komuninya?” tanyaku pada salah seorang frater dari Seminari Menengah itu. Sebuah lagu dengan judul “Make me a channel of you peace” tentang doa St. Francis menarik bagiku untuk dipelajari. “Kamu suka lagu itu?” Si frater bertanya kepadaku sambil menyodorkan copy lagu yang kumaksud. “Pertama saya kenal kata-kata dari Santo Fransiscus Assisi itu, yang kedua lagunya memang indah”, jawabku sambil memandang Sang Frater sementara di depan kami seorang frater sedang bercerita tentang pengalamannya akan panggilan hidupnya untuk menjadi seorang Imam. Seusai Misa memang digelar Work Shop Panggilan di Aula gereja, lengkap dengan standboot “promosi” para frater dan suster dari berbagai ordo dan tarekat religius, tak ketinggalan pula kesaksian dan sesi tanya jawab tentang panggilan hidup mereka. “Jadi Pastor enak yah frater?” tanyaku sambil masih menggenggam partitur lagu tadi, “Kemana-mana ada kendaraan pribadi, makan disediakan umat, mau ziarah ke luar negri gratis, hampir setiap hari jalan-jalan keliling paroki, kalau Misa selalu dapat tempat duduk khusus paling depan”, kataku jujur tanpa ada maksud tertentu dibalik semua rentetan pernyataanku tadi. “Mungkin!” jawab Sang frater singkat. “Tapi lebih dari itu semua tugas utama seorang Pastor adalah menjadi gembala, melayani umatnya”, kali ini Sang Frater tersenyum kepadaku, seolah ingin mengoreksi semua pernyataanku barusan. “Saya Dion, Dionisius” , Si Frater mengulurkan tangannya kepadaku. “Ambrosius Prawira Angkasa, anak Vincentius kelas dua SMP”, balasku dengan lengkap. “Kamu punya cita-cita jadi Pastor?” Frater Dion, begitu dia minta dipanggil, membuyarkan lamunanku tentang gaya hidup seorang pastor dengan pertanyaannya. Sebuah pertanyaan singkat namun dalam artinya bagiku. “Mungkin!” kali ini malah aku yang menjawab singkat. Siang itu aku lewati dengan mengunjungi beberapa standboot para frater, bertanya ini itu tentang spiritualitas ordo dan tarekat mereka. “Kapan-kapan main ke seminari yah”, ajakan frater Dion menutup perpisahan kami saat rombongan mereka hendak kembali ke seminari.

    “Kamu masih bisa untuk berpikir lagi angelo”, Bruder Marco mengatakan hal ini sewaktu aku berjalan beriringan mengantarkan dia ke ruangannya dengan setumpuk partitur di tanganku sehabis kami berlatih paduan suara. Angelo, sebuah nama panggilan kesayangan Bruder Marco terhadapku. Dia menganggap aku malaikatnya. “Tekad saya sudah bulat Bruder,” kataku dengan tatapan lurus ke depan, menyusuri koridor temaram di selasar panti menjelang doa malam hari itu. “Jangan jadikan panggilan sebagai alasan bagi pelarianmu, ada banyak hal yang belum kamu ketahui tentang panggilan hidup membiara”, seolah ingin memupus tekadku, Bruder Marco menjelaskan lagi, “hidup membiara itu sulit, bukan hanya karena selibat, tapi lebih banyak kendala batin yang akan kamu hadapi nanti berkenaan dengan pola hidup dan kebersamaan dalam komunitas”, kata-kata Bruder masih buram dalam pemahamanku. “Apakah karena saya dari panti asuhan maka saya tidak cocok untuk menjadi Imam?”, pertanyaanku kali ini kurasa agak menyudutkan Bruder Marco, namun tak kulihat tanda-tanda itu di matanya. “Berdoa saja supaya kamu diberikan jalan yang terbaik”, dengan bijak Bruder Marco menutup pembicaraan kami sambil mengambil tumpukan partitur di tanganku. “Pergilah kamu duluan, malam ini kamu yang main organ untuk ibadat malam”, Bruder Marco seolah ingin mengusirku secara halus dari depan kamarnya, sementara di kejauhan lonceng kapel telah berdentang, menandakan saatnya pamit kepada Sang Pemberi Hidup untuk beranjak ke peraduan. Doaku memohon tapi lebih terasa menuntut, bahkan memojokkan Tuhan akan keinginan yang aku sendiri tak tahu apa dan kenapa.

    “Ini brosur yang kamu minta Ambro”, Pater Thomas memberikan sebuah kertas mengkilat berisikan informasi tentang Seminari Menengah Wacana Bhakti, sebuah seminari menengah di Jakarta di bilangan Pejaten Barat Pasar minggu, lengkap dengan gambar kegiatan para frater mudanya. “Ini formulir pendaftarannya, jadwal wawancaranya nanti Pater kabari lagi”, Pater Thomas memandangku tajam, seakan ada selidik pada kedua bola matanya. “Saya senang kamu terpanggil, namun saya juga ingin tahu lebih lanjut motifasi kamu untuk menjadi imam”, bagai seorang detektif handal, Pater Thomas mengulik tajam tentang keinginanku itu. “Saya hidup dan besar dari gereja, saatnya saya membalas dengan pengabdian saya bagi gereja”, sebuah motifasi awal yang cukup bagus menurut hematku, mungkin juga spektakuler terdengarnya. “Tidak harus dengan jalan menjadi Imam bukan?” dengan senyum bijaksana Pater Thomas seakan tidak terpana dengan jawaban ku yang ku anggap mulia tadi. “Kamu bisa menjadi umat yang baik, menjadi donatur bagi adik-adikmu di sini, tidakkah kamu berkeinginan memiliki keluarga seperti yang tidak kamu miliki selama ini?”, kali ini pertanyaan Pater Thomas seakan meruntuhkan benteng pertahananku akan sebuah cita-cita yang ku anggap agung itu. Jujur ku akui, Pater Thomas menyentuhku pada bagian perasaanku yang paling sensitif. “Justru dengan jalan inilah saya rasa saya bisa memberikan lebih untuk adik-adik saya walaupun mungkin bukan materi, keluarga dalam hidup bersama di biara bisa saja menjadi pilihan bagi siapapun yang ingin mengabdikan diri bagi pelayanan”, tak kupercaya kata-kata ini keluar dari mulutku. Mungkin karena terpaan hidup dan beratnya pergumulan yang aku lalui dalam kurun waktu hidupku membentuk aku menjadi manusia dengan sedikit rasa dan pemikiran yang agak berbeda dari anak kebanyakan seumurku. “Kalau begitu Pater turut mendukung dalam doa, semoga Tuhan merestui niat baikmu ini”, bagai sebuah oase di padang gurun yang tandus, kata-kata Pater Thomas seolah menyejukkan dan mengangkatku ke pusaran awan putih. Melegakan dan menyiratkan restu yang penuh untuk sebuah cita-cita.

    “Elu gak nyesel Mbro?” Tanya Aldi setelah dia tahu tentang niatku meneruskan studi ke Seminari Menengah, ada rasa tidak suka pada nada tanyaanya, “trus kita gimana?” lanjut Aldi. “Entahlah, Di”, jawabku sekenanya. Sabtu siang itu memang aku diperkenankan oleh Pater Thomas untuk bermain di rumah Aldi setelah sebelumnya Mamanya Aldi memintakan ijin kepada beliau. Kamar Aldi cukup luas untuk dihuni oleh satu orang, ada meja belajar lengkap dengan seperangkat komputer keluaran terbaru. Tempat tidurnya yang menghadap jendela kamar memantulkan warna kebiruan dari sprei yang kurasa baru diganti karena masih licin dan mulus. Ada setumpuk bantal besar di depan sebuah buffet berukuran sedang tempat meletakan tv, audio, VCD player, serta sekumpulan CD games yang disusun rapih di atas game playernya. Sebuah lemari besar dua pintu adalah satu-satunya benda paling besar di kamar itu. Belum lagi seonggok mainan dan sebuah gitar akustik yang memenuhi pojok ruangan di samping pintu kamar mandi yang memang terletak di dalam kamar. Bagiku pribadi ini lebih besar dari kamar Pater Thomas sekalipun. Aku sendiri di panti tidur di satu ruangan besar mirip barak tentara dengan banyak tempat tidur yang tersusun berjejer. “Elu gak mau tinggal disini?” Aldi selalu menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang pada setiap kesempatan, pun pula kali ini. “Gua rasa Papa Mama juga sayang elu, mereka udah anggap elu sebagai anaknya sendiri”, berondongan pertanyaan Aldi yang menyudutkanku kutanggapi dingin. Aku terduduk diam di karpet besar yang tebal dan empuk dengan satu lutut yang kupeluk erat seakan mau lepas, pandangan mataku kosong kuarahkan kepada raut wajah Aldi yang dari tadi terbaring menyandarkan kepalanya pada paha kakiku yang lain, sedikit agak kesemutan setelah hampir setengah jam kami berbincang dalam posisi yang sama. “Kita bisa masuk SMA Canisius bareng, kuliah di Universitas yang sama nantinya”, Aldi masih mendominasi percakapan tanpa peduli akan kebisuanku. Colese Canisius memang tujuan utama Aldi untuk jenjang SMU nya. Entah karena memang rumah Aldi di daerah Menteng, atau karena siswa yang homogen dengan pengkhususan pada pelajar pria saja, aku tak tahu. “ Kamu mau menghindar dariku?” pertanyaan Aldi seolah mencairkan titik bekuku, dengan malas aku berseloroh, “gak usah ke seminari kalau harus menghindar dari kamu”, kataku sambil mengusap kepala Aldi. Secara fisik Aldi memang anak yang tampan walau sedikit kurus menurut penilaianku. Jujur ku akui, aku sayang Aldi, namun kusadari rasa sayang ini lebih besar sayang seorang kakak kepada adiknya, selebihnya hanyalah pengalaman cinta sejenis yang biasa menurutku. “Aldi, Ambro ayo turun, nih Papa bawakan ice cream”, suara Mamanya Aldi dari lantai bawah rumahnya di ruangan tengah menyelamatkan situasi ku yang kurang mengenakkan pada saat itu dengan kedatangan Papa dan Mamanya Aldi sehabis pergi dari suatu tempat, urusan keluarga kata mereka, makanya aku dan Aldi dibiarkan di rumah. Sore itu aku menolak dengan halus atas ajakan Orangtua Aldi serta pasti Aldi sendiri untuk bermalam disana, Aku harus mempersiapkan latihan paduan suara untuk mengisi koor keesokan harinya pada Misa hari MInggu di gereja Kramat, demikian alasan yang kurasa tepat dan memang benar adanya. Dijalan Papa dan Mamanya Aldi akhirnya tahu dari anaknya tentang rencanaku untuk melanjutkan studi ke Seminari Menengah. Tanpa banyak pertanyaan menyudutkan mereka mendukung niatku walau kutahu juga sebetulnya mereka tidak tahu persis apa dan bagaimana Seminari itu, yang mereka tahu adalah sekolah calon pastor, titik! Orang tua Aldi memang bukan orang Katholik yang aktif di gerejanya, seringkali bahkan mereka tidak pergi menghadiri Misa di parokinya sendiri. Papanya Aldi lebih suka mengajak keluarganya untuk menghadiri Misa dengan bahasa Mandarin di Paroki Toasebio daerah Pecinan Glodok. Umur iman Katholik keluarga ini memang dapat dikatakan baru, setelah sebelumnya keluarga Aldi masih sering pergi ke Klenteng.

    Tahun kedua di SMP kulewati dengan mulus, seperti biasa nilai-nilaiku membanggakan pihak panti, ku buktikan bahwa anak tanpa orangtua pun bisa berprestasi dengan baik bahkan gemilang bila tak mau dikatakan berlebihan. Hubunganku dengan Bruder Marco sekaligus back street a la cinta monyet ku dengan Aldi, menambah semangat belajar dan mendorongku untuk lebih banyak berprestasi di sekolah. Tak lupa dorongan Pater Thomas dan suster Margaret di sela-sela orientasi panggilanku mengunjungi Seminari Menengah dalam doa dan nasihat melengkapi usahaku untuk menjalani test saringan masuk Seminari. Suster Margaret adalah orang yang paling antusias dan bersemangat atas niatku ini. Tak seperti yang lainnya dengan mimik mempertanyakan alasanku masuk seminari, suster Margaret malah sontak memberiku ciuman keibuannya ketimbang mempertanyakan motivasiku terlebih dahulu saat kuutarakan rencanaku ini. Hari-hariku di tahun ketiga di SMP dipenuhi dengan segudang persiapan ujian kelulusan, demikian pula di Panti. Sebagai seorang senior, aku lebih banyak membantu urusan tekhnis kepengurusan operasional panti. Kuniatkan diri untuk memberikan yang terbaik dengan seluruh tenaga dan pemikiranku demi meninggalkan kesan baik seandainya aku diterima di seminari menengah nanti. Bruder Marco sendiri akhirnya mengalah dengan keputusanku, beliau malah balik mendukungku dengan menjejalkanku pada pola hidup kebiaraan yang dijalaninya. Regula (aturan hidup membiara) St. Fransiscus Assisi menjadi salah satu pokok pembahasan diantara pembicaraan kami berdua, baik serius ataupun dalam suasana romansa yang hanya kami berdua yang tahu. Sebaliknya Aldi malah sedikit menjaga jarak denganku, aku tak peduli, walau sikap dan perlakuanku sama terhadap Aldi namun keengganannya untuk bercengkrama seperti masa-masa romantis kami dulu sudah cukup menjelaskan bahwa Aldi kecewa akan niatku.

    Paduan suara Panti menyanyikan “Halleluya” karya Hendel, sebuah maha karya yang abadi. Hari itu adalah Hari Raya Paskah di hari pertama di tahun ketigaku di SMP. Sebuah gelora kemenangan atas maut, Kemenangan atas dosa yang telah dilebur dalam pengorbanan Suci Sang Tersalib. Kemenangan bagiku untuk sebuah cita-cita. Pengumuman atas diterimanya aku di Seminari Menengah Wacana Bhakti disertai daftar barang-barang yang harus kubawa nanti melengkapi luapan kegembiraanku. Saat itu yang ada dibenakku cuma satu. Walau telah kusadari orientasi sex ku yang kata orang menyimpang, walau ku tahu gereja mengecam, tapi bila Tuhan berkehendak, biarlah cawan itu lalu dari hadapanku, namun bukan kehendakkulah yang terjadi melainkan terjadilah menurut kehendakMu.



    TO BE CONTINUE

    Anero
    Peacesharer
    Peacesharer

    Jumlah posting : 20
    Join date : 11.09.09

    Re: Don't Give Up Chapter XIII

    Post  Anero on Thu Sep 12, 2013 1:32 am

    Ini kisah nyata ?

      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:19 pm