Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Don't Give Up Chapter XII

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Don't Give Up Chapter XII

    Post  ambrochius on Tue Jan 27, 2009 9:13 am

    Chapter XII City of Angel



    Belum sempat aku keluar menjejakkan kaki dari dalam mobil yang dikendarai Albert, Endang (yang ini nama seorang pria dengan pelafalan huruf “E” seperti pada pengucapan angka “enam”, nama ini memang lazim digunakan oleh pria di daerah jawa barat), waiter restaurant teropoh-gopoh menghampiriku.” Pak ada tamu mau reservasi katanya untuk retret” , dengan nafas terengah dia melanjutkan,”sudah 2 jam yang lalu mereka datang, katanya dari Jakarta, kan hari ini Ibu Shanti (PR Resort)libur, jadi belum ada yang melayani pak.” Kupandangi Albert dengan mesin mobil yang masih menyala, “hati-hati di jalan!” kataku padanya. Albert punya rencana untuk bertemu dengan teman-temannya berNatalan di suatu tempat, jadi dia langsung meninggalkanku di resort.
    Setengah berlari kecil, aku berusaha mengimbangi jalan Endang yang cepat menuju ke arah resto, di sana sudah menunggu beberapa orang yang sedang bersantai dengan minuman hangat yang telah mereka pesan. Seseorang tampak sangat kukenal, benar saja, Aldi!, temanku sewaktu SMP, atau lebih tepatnya kukatakan. . . “Cinta Monyet” ku sewaktu SMP. “ Ini Pak Ambrochius, beliau Operational Manager nya pak”, Endang memperkenalkan aku dengan Aldi sang ketua rombongan. Sesaat aku tak berkata apapun, demikian pula Aldi. Kami saling pandang. “Ambro! Kamu kerja di sini?” akhirnya kebisuan itu dipecah suara Aldi dengan roman muka yang tak bisa ku jabarkan. “Aldi?” Kataku tanpa menjawab pertanyaan Aldi, “apa kabar?” aku menjabat tangan Aldi tanpa menunggu uluran tangannya, “Ini Ambrochius, temanku waktu SMP” , Aldi menggenggam jabatanku, seraya memperkenalkanku pada teman-temannya. Hatiku tersenyum, mengingat masa laluku bersama Aldi yang tak penah kulupakan. Di kota ini, Kota Kembang! Hampir sepuluh tahun yang lalu.

    “Liburan ini elu ikut gua saja ke Bandung, gua punya villa di sana” kata Aldi di sela istirahat Ulangan Umum. Sebentar lagi memang libur akhir tahun ditambah libur Natal, jadi ada dua minggu lebih masa liburan sebelum kuartal baru dimulai. “Nanti Papa Mama yang meminta ijin kepada Pater Thomas (Pater Thomas adalah Pastur Kepala Panti) supaya elu diijinin keluar Panti”, Aldi melanjutkan. Aku tak menjawab ajakan Aldi, pandanganku masih melekat pada beberapa kisi-kisi soal Fisika yang mungkin akan diujikan nanti. “Gua juga udah minta ijin ke Papa Mama supaya elu juga diajak ikut, kami mau ke Bandung, setelahnya nanti kita ziarah ke Goa Maria di Kuningan,” seolah Aldi tak peduli dengan ketidakacuhanku pada ajakannya. Aldi memang anak tunggal, dia hanya punya aku sebagai teman sekaligus saudaranya, begitu dia menganggapku. “Boleh!” jawabku singkat dan datar, aku masih berkonsentrasi pada buku Fisikaku. Aku memang sedang memerlukan suasana baru, tambahan lagi Bruder Marco, Sang pujaan hatiku, katanya dia akan pulang kampung ke Medan barang beberapa hari. Walau ada Suster Margaret namun suasana Panti sekarang akan jauh berbeda dengan ketidakhadiran Bruder Marco tentunya.

    Jalan di Kota Bandung masih basah lepas diguyur hujan. Kami baru tiba setelah hampir lima jam perjalanan panjang dan melelahkan lewat Puncak. Pak Gunawan, ayah Aldi, langsung membawa mobilnya menuju villa di daerah Setiabudhi yang menuju kearah Lembang. “ Benar kamu tidak mau tinggal bersama kami Mbro?” suara Ibu Gunawan mengganggu konsentrasi pada pandanganku di sepanjang jalan Cihampelas yang ramai dan padat, berjejalan orang yang lalu lalang berbelanja berbagai jenis pakaian jadi pada berderet-deret toko dengan dekorasi dan eksterior yang unik dalam berbagai tema Super Hero. Kali ini aku diam tertunduk, tak tahu harus menjawab apa, Aldi memperhatikanku, seolah ia ingin jawaban pasti dariku berkenaan dengan pertanyaan ibunya saat itu juga. “Kami sudah bicarakan hal ini dengan Pater Thomas sewaktu kami meminta ijin untuk membawamu berlibur”, Pak Gunawan menyambung pertanyaan istrinya sambil pandangannya tetap terkonsentrasi pada lalu lintas yang padat di sepanjang jalan Cihampelas itu. “Beliau meminta kami untuk menanyakan hal ini langsung kepadamu, namun menurut hemat beliau, mungkin kamu tidak akan mau, benar begitu Mbro?”, seolah aku disudutkan pada pertanyaan suami istri orang tua sahabatku ini, “Saya hanya ingin membantu adik-adik saya dipanti Bu, lagi pula saya sudah terbiasa dengan kehidupan asrama dipanti”, entah ini merupakan jawaban atau hanya sebuah pernyataan mengelak dariku, aku tak tahu. “Kita bisa sekali waktu berkunjung ke panti kan? Lagi pula lokasi sekolah dan panti kan masih satu kompleks”, kali ini Aldi seolah ikut menyudutkan aku dengan pernyataan yang membombardir. Aku diam, sesaat ada rasa penyesalan atas keikutsertaanku pada liburan keluarganya Aldi. Seolah tahu dengan diamnya dan kegalauan pikiranku, Bu Gunawan berkata “besok kita belanja pakaian di sini ya”, seraya seolah mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk salah satu toko pakaian dengan dekorasi tokoh Alladin di atasnya. Aku diam, Aldi diam, semua diam.

    Malam itu kami lalui di villa dengan suasana yang hangat. Ada teh panas, jagung bakar, serta tak lupa nasi tutug oncom kegemaran Pak gunawan lengkap dengan ayam goreng dan lalab sambal buatan istri Pak Maman penjaga villa. Setelah melewati obrolan dan candaan ringan, akhirnya Bapak dan Ibu Gunawan meninggalkan aku dan Aldi yang masih terjaga di jendela kamar, melihat terangnya kemilau lampu berkelap kelip di kejauhan pada tataran kota Bandung, dengan halimun tipis bagai hamparan awan transparan yang mengaburkan bias gemerlapnya lampu, bagiku tampak seperti sebuah kota di atas awan, kota para malaikat. Villa keluarga Pak Gunawan memang berada diketinggian yang pas untuk melihat gemerlap kota Bandung di waktu malam. “Sungguh elu gak mau tinggal dengan kami?” Aldi memecah suasana dengan pertanyaan ibunya yang tadi diajukan sewaktu kami masih di perjalanan. “Elu udah dengerkan jawaban gua”, kataku sambil mataku tetap mengagumi keindahan gemerlap kota dengan julukan Paris Van Java ini. “ Apa elu gak suka sama gua?” , kali ini pertanyaan Aldi agak aneh terdengar di telingaku, apa hubungannya, pikirku sesaat. Aku alihkan pandanganku dari temaramnya kota pada raut wajah yang telah ku kenal selama lebih dari tujuh tahun sejak aku mulai bersekolah. Ada tanya yang tak terkatakan dalam tatapanku. “Elu udah gua anggap lebih dari seorang sahabat Mbro”, kali ini bola mata Aldi seolah ingin mengatakan sesuatu yang telah dibendungnya setelah sekian lama, ada kemilau basah yang kutangkap dari binar pada tatapannya ke arahku, wajahku memanas. “Bahkan lebih dari seorang saudara”, seolah Aldi membaca maksud pikiranku yang mungkin bahwa Aldi telah menganggapku sebagai seorang kakak baginya, aku masih diam, mencoba untuk menjabarkan kalimat yang bagiku seperti sebuah pesan berantai dengan seribu isyarat tersembunyi pada setiap guratan kata-katanya. “Gua suka elu Mbro, gua sayang elu”, tanpa meminta persetujuan dariku dan menghiraukan tatapan tanyaku padanya, Aldi langsung memelukku erat seolah tak ingin lepas. Bagai sebuah Lembar Kunci Jawaban pada soal Ulangan Umumku, semuanya tergambar jelas sekarang, kenapa Aldi begitu perhatian terhadapku, kenapa Aldi selalu membawakan aku berbagai macam hadiah dan peralatan tulis yang baru untukku, kenapa dia selalu membagi bekal makan siangnya untukku, kenapa dia selalu meminjamkan aku cergam Tintin begitu terbitan terbaru keluar, dan seribu kenapa yang sekarang sudah jelas bagiku jawabannya. Ini bukan pengalaman pertamaku dalam situasi lelaki suka dengan sesama lelaki, ada Bruder Marco, sebelumnya. Namun bagiku ini adalah kali pertamaku mengenal seseorang sebayaku, mencintai sesama jenisnya. Aku tetap diam, tak berusaha mengelak pelukan Aldi yang terguncang karena isaknya. Kupeluk Aldi rapat, membenamkan kepalanya pada rengkuhanku, seolah berkata “Aku juga sayang kamu”.

    Beberapa hari sebelum kepulangan liburan kami di kota Bandung, kami menyempatkan diri berziarah ke Goa Maria di daerah Kuningan dekat Cirebon, Desa Cisantana tepatnya. Orang setempat menyebutnya “Totombok”. Konon kabarnya dulu tempat itu adalah tempat Jin buang anak, namun sekarang menjadi tempat suci Sang Bunda Sawer Rahmat (Bunda Penebar Rahmat) dengan ribuan peziarah yang berdatangan dari seluruh penjuru kota. Selepas kejadian malam itu di villa, aku dan Aldi memang jadi lebih sering memperhatikan satu sama lain, Bapak dan Ibu Gunawan melihatnya sebagai suatu keakraban dua saudara yang lazim seperti kakak adik pada umumnya. Kami saling berkejaran pada pundak tanah berbatu menuju ke lokasi Goa Maria di atas bukit setelah sebelumnya melewati pemukiman penduduk setempat yang mayoritas beragama Katholik, katanya disinilah basis Umat Katholik bersuku Sunda. Sebuah peristiwa sejarah imani mengantarkan penduduk lokal kepada kepercayaan akan Tritunggal Maha Kudus lepas dari ajaran leluhur mereka yang disebut Agama Djawa Sunda. Sesampainya kami di lokasi Goa Maria, telah hadir pula serombongan umat yang menggelar Doa Rosario, kali ini kami terpesona. Sebuah ritual agama Khatolik yang didaraskan dalam bahasa daerah setempat lengkap dengan lagu yang diiringi oleh sekelompok pemusik Kacapi Suling, suara degung menggetarkan perbukitan Totombok dengan sekelumit syair yang beberapa tahun kemudian baru kumengerti artinya.

    Duh Gusti abdi kaduhung (Ya Tuhan aku menyesal)
    Hirup kirang Tatatiti (Hidup kurang berhati-hati)
    Sok sering milampah dosa (Sering kali melakukan dosa)
    Ngarempak larangan Gusti (Melanggar larangan Tuhan)

    Mangga ayeuna sumeja (Sekaranglah saatnya bersimpuh)
    Disarengan sadrah ati (Disertai dengan hati yang tulus)
    Neda jembar panghampura (Memohon pengampunan yang luas)
    Ti Keursa Nu Maha Suci (Dari Kehendak yang Maha Suci
    )


    Hatiku menangis! Doaku melambung, doa diam tak terkata, doa hening tak bergema. Hatiku lelah, Jiwaku parah, dengan sekian masalah. Walau saat itu tak kutahu makna lagu itu, namun dengung sucinya menggetarkan seluruh perasaanku. Apakah jalan hidup yang seperti ini yang Engkau kehendaki bagiku Tuhan? Seorang yatim piatu dengan cinta terlarang? Doaku menyisakan Tanya.

    Perjalanan pulang ke Jakarta kami lewati lagi ke kota Bandung, kota dengan kenangan manis sekaligus kelam bagiku saat itu. Dalam hati aku berucap, “Suatu saat aku akan kembali ke kota ini, kota Para Malaikat!”


    TO BE CONTINUE

      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:16 pm