Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Homosexualitas dan Gereja (Sebuah tantangan untuk menjadi straight dalam iman Kristiani)

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Homosexualitas dan Gereja (Sebuah tantangan untuk menjadi straight dalam iman Kristiani)

    Post  ambrochius on Sun Jan 25, 2009 7:23 am

    Ada satu tulisan yang menarik (mungkin dari seorang penginjil Kristen). Yang menarik dari tulisan ini adalah ketidakberpihakannya pada salah satu kubu pro atau kontra. Namun ditutup dengan sebuah tawaran, tentu saja untuk memiliki orientasi sexual secara umumnya pada manusia kebanyakan. Terlepas dari ajakan tersebut, ada baiknya kita simak juga:

    Masalah homoseksualitas juga menjadi urusan gereja karena di kalangan jemaat tentu ada yang berperilaku demikian, apalagi setelah di kalangan pendeta juga ada yang memiliki kecenderungan homo. Lebih dari itu masalahnya tidak sekedar bagaimana sikap gereja terhadap pelaku homo, tetapi sikap ini akan membawa konsekwensi lebih jauh, yaitu bagaimana menyikapi kebiasaan berganti-ganti pasangan di kalangan homo, dan bagaimana menyikapi resiko wabah AIDS yang sudah terbukti paling banyak terjadi di kalangan pelaku seks homo dan pengguna jarum suntik yang dipakai bersama. Lebih lagi pertanyaan yang harus dijawab oleh gereja adalah bagaimana kalau toleransi gereja kepada perilaku ini berlanjut pada setuju-tidaknya gereja menikahkan mereka (yang nota bena beresiko menerima perilaku promiskuitas), dan bagaimana pula kalau sampai mereka mengadopsi anak, padahal para psikolog dan peneliti menjumpai fakta bahwa kaum homo sangat mudah tertarik kepada sesama jenis dan berganti-ganti pula, apalagi kalau tinggal serumah.

    Sebenarnya masalah toleransi gereja terhadap kaum homo mencuat sejak tahun 1970 ketika di Amerika Serikat terjadi revolusi seksual yang mendorong toleransi tanpa batas terhadap seks bebas dan berimbas kepada penerimaan perilaku seksual seperti gay dan lesbian yang secara tradisional ditolak masyarakat umum. Yang menarik adalah setelah lewat seperempat abad, di Amerika Serikat sendiri sudah mulai ada kesadaran melihat bahwa revolusi seksual menjurus kepada ketiadaan arah atau chaos sehingga banyak yang kembali kepada nilai-nilai seksualitas tradisional dalam perkawinan, maka revolusi kebebasan homo juga perlu ditempatkan dalam konteks perubahan itu.

    Gereja tradisional memang bersikap di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam menghadapi perilaku homo. Dalam PL, memang pelaku homo cenderung disalahkan dan dihukum berat, tetapi dalam PB sekalipun ancaman hukuman masih ada, Tuhan Yesus memberikan dimensi baru dengan kasih dalam menghadapi penyimpangan seksualitas termasuk perilaku gay dan lesbian. Kasus perempuan berzina dalam Injil Yohanes 8:1-11 menunjukkan dengan jelas kasih PB di bandingkan hukuman PL, tetapi itu tidak berarti Yesus merestui perzinahan itu, tetapi ia mengatakan kepada perempuan itu agar “jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ayat 11), Suatu pergeseran dari hukuman kepada penyadaran dan kesempatan memperbaiki diri.

    Di kalangan gereja, kalangan konservatif umumnya menolak perilaku homoseksual, ada yang melawannya secara keras dan menghukum orangnya, tetapi ada juga yang menolak dosa mereka tetapi berusaha membantu mereka dengan doa dan terapi agar kaum homo itu melalui kesadaran mereka sendiri mau mengalami suatu perubahan hidup melalui pertobatan sekalipun langkah itu tidak mudah. Banyak kesaksian pertobatan di kalangan homo berhasil menjadikan pelaku homo menjadi pelaku hetero dan banyak yang bahkan kemudian hidup berumah tangga. Di Amerika Serikat dan Inggeris, tempat dimana revolusi seksual terjadi di tahun 1970-an dan menyebar ke seluruh dunia bebas, sekarang sudah ada perkumpulan-perkumpulan mantan homo yang saling menguatkan dan membantu para pelaku homo yang masih terikat dosa-dosa mereka.

    Di kalangan penganut kebebasan yang biasa disebut sebagai liberal, revolusi seksual itu sejalan faham ‘Etika Situasi’ yang dianut orang modern kala itu, menumbuhkan gereja-gereja yang berorientasi liberal mulai membuka diri akan perilaku homo dan tidak memandangnya sebagai dosa melainkan sebagai salah satu alternatif kecenderungan seksual. Kontroversi soal pro-kontra bukan saja antara gereja konservatif dan liberal, tetapi di kalangan gereja liberal sendiri banyak kalangan yang menolak penerimaan perilaku homo sebagai kewajaran, itulah sebabnya sampai sekarang sekalipun ada gereja yang sudah mulai mengawinkan pasangan homoseksual, praktek itu belum merata diakui sebagai kewajaran dan masih merupakan kasus (apalagi mengingat kecenderungan itu hanya terjadi di bawah 3% jumlah penduduk).

    Seperti ulasan sebelumnya, memang gereja harus berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam salah satu ekstrim, apakah ke arah kutub konservatisme-legalistik atau ke liberalisme-permisif. Sikap Yesus yang kasih terhadap pelaku dosa tetapi tetap menyadarkan orang akan dosa bisa dijadikan kiblat yang baik. Masalah yang menjadi kontroversi berlarut-larut (dalam segala bidang) dalam kasus homo adalah apakah gereja mau menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup dan memandang homoseksualitas sebagai dosa yang harus diluruskan ataukah menganut faham kebebasan individual yang membuka diri terhadap kebebasan manusia di luar Tuhan?

    Gereja dan umat Kristen perlu melihat perilaku homoseksual dalam perspektif yang luas dan komprehensif, tidak sekedar melihat sebagai hak azasi manusia dan mengikuti apa yang ‘diingankan (wanted)’ pelaku homo, tetapi perlu melihat apa sebenarnya yang ‘dibutuhkan (needed)’ kaum homo itu. Kita sudah melihat bahwa homoseksualitas tidak berdiri sendiri di atas fundasi hak-hak azasi manusia tetapi merupakan lingkaran siklus tak berujung yang mencakup trauma kejiwaan, kecenderungan promiskuitas yang menyebabkan mereka cenderung berganti-ganti pasangan, perilaku yang membuka lebar akan tersebarnya penyakit psiko-sosial homo dan AIDS, dan apakah gereja membiarkan terjadinya resiko cinta situasi bila pasangan homo mengadopsi anak yang kelak ditulari perilaku demikian?

    Ada gereja yang menggumuli perilaku seksual pendeta atau jemaatnya yang homo, apakah itu ditoleransikan atau di tolak? Resiko ditoleransikan memang besar, sebab dengan menerima itu sebagai kenyataan, jemaat harus siap menerima kalau sewaktu-waktu si pendeta atau jemaat berganti pasangan, demikian juga kalau sewaktu-waktu si pendeta atau jemaat tertarik pada salah satu jemaat lain dan meninggalkan pasangannya semula, karena kecenderungan-kecenderungan yang menyimpang itu sudah terbukti melekat dalam kehidupan para pelaku homoseksual. Ini bukan stigmatisasi tetapi kenyataan sejarah.

    Akhirnya, penulis pernah beberapa kali berdialog dengan seorang dokter Kristen yang mempunyai kecenderungan homoseksual. Ia mengakui bahwa sekalipun ia telah mengalami iman kelahiran baru, namun kecenderungan kejiwaannya sering sulit untuk diatasi, tetapi tekad yang kuat, iman dan penyerahan dirinya kepada Tuhan, dan doanya meminta kehadiran Roh Kudus untuk menyembuhkan perilakunya itu, menyebabkan perilaku itu tidak lagi menjadi penguasa dirinya. Ketika ia belajar di Eropah, di sana terbuka kesempatan bertemu dengan perkumpulan Kristen para mantan gay dan ia menjumpai suatu terapi menarik yang akhirnya diikuti sebagai jalan hidupnya. Ada banyak mantan gay dan lesbian yang kemudian menikah secara heteroseksual dan membangun keluarga Kristiani, namun banyak juga yang tidak mampu sampai menyeberang demikian jauh, dan bagi mereka timbul tekad yang dijalani dengan kekuatan Roh Kudus bahwa lebih baik selibat (tidak kawin) daripada menyerah kepada kelainan psiko-sosial dalam dirinya. Kini ia dapat berkata: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

    Amin.

    Salam kasih dari Herlianto/YABINA ministry

    dikutip dari yabina.org

    Anero
    Peacesharer
    Peacesharer

    Jumlah posting : 20
    Join date : 11.09.09

    Re: Homosexualitas dan Gereja (Sebuah tantangan untuk menjadi straight dalam iman Kristiani)

    Post  Anero on Wed Sep 11, 2013 8:55 pm

    For me, being gay is just a simple mistery. Yang menciptakan gw seperti ini adalah Tuhan Yesus. So cuma Dia yang paling tau dan mengerti gay. Saat ini i still dont understand it yet. Maybe someday He will let me know, why my life is so 'special' than others or maybe i will never know. But for all i know. Im not a defect creation and i am loved by my creator, Jesus Christ, no matter what.

    So buat semua teman2 yang sama2 senasib out there. We may all have our own stories for being gay and catholic. Dont worry or be afraid , we are special in our Father's eyes.
    You are loved no matter who u r.

      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:18 pm