Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Deklarasi Hak Kaum Homosexual

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Deklarasi Hak Kaum Homosexual

    Post  ambrochius on Sat Jan 24, 2009 5:54 am

    Banyak negara Muslim dan Tahta Suci Vatikan menentangnya, tetapi untuk pertama kali berhasil diangkat masalah hak kalangan homosexual dalam Majelis Umum PBB.

    66 negara mendukung deklarasi bersama Belanda/Prancis yang berseru supaya di seluruh dunia dicabut undang-undang yang anti kalangan homosexual. Dalam deklarasi itu tertera bahwa orientasi sexual atau jatidiri sexual tidak boleh menyebabkan seseorang dikenai sanksi, seperti hukuman mati, penahanan atau penjara.

    Boris Dittrich, direktur Seksi Hak Kalangan Homosexual pada LSM Amerika Human Rights Watch, menggarisbawahi banyak negara Afrika ikut menandatangani deklarasi ini.

    Historis dan hari istimewa
    Boris Dittrich: "Ini sangat penting karena negara-negara itu mendukung deklarasi yang berseru kepada negara-negara lain supaya tidak lagi mendiskriminasi kaum homosexual, kalangan lesbian dan transgender. Ini untuk pertama kalinya Majelis Umum mengangkat masalah ini. Ini jelas saat yang historis".


    Menteri Luar Negeri Belanda Maxime Verhagen yang khusus datang ke sidang Majelis Umum PBB di New York juga menyebut deklarasi ini sebagai "hari istimewa bagi PBB." Menurutnya PBB terlalu lama menyia-nyiakan hak kalangan homosexual.

    Secara tidak langsung, deklarasi ini mengritik 80 negara yang memiliki undang-undang yang menindas kaum homosexual. Bahkan di tujuh negara, kalangan homosexual bisa dijatuhi hukuman mati.

    Tentangan
    Dokumen ini tidak mengikat. Walau demikian langsung memancing amarah negara-negara agamis konservatif. Perlawanan terhadap deklarasi ini dipimpin oleh Vatikan, dengan dukungan 56 negara lain. Menurut Uskup Agung Migliore, Vatikan menilai deklarasi tersebut tidak ada gunanya. Hanya menciptakan kategori baru yang perlu dilindungi dari diskriminasi. Dan hanya akan mendorong diskriminasi pernikahan kaum hetero tradisional. "Negara-negara yang tidak mengakui pernikahan homosexual, akan jadi sasaran tekanan", jelas Migliore.

    Organisasi Negara-Negara Islam, OIC, sebagai wadah negara Islam terbesar, resminya tidak mendukung Vatikan. Tapi, banyak juga negara-negara anggota OIC yang menentang deklarasi ini. Menurut Boris Dittrich para penentang adalah negara-negara Islam garis keras.

    Boris Dittrich: "Misalnya Mesir, tapi juga Uganda, dan negara-negara seperti Arab Saudi. Mereka sangat menentang pembicaraan mengenai fakta pelanggaran hak azasi manusia. Jadi, menentang pembicaraan tentang pemenjaraan, penyiksaan dan pelaksanaan hukuman mati terhadap kalangan homosexual. Mereka menolak pembicaraan mengenai semua itu".

    Para pembela hak homo juga khawatir deklarasi ini mendorong persatuan kelompok penentang. Seperti yang terjadi pada Konperensi Famili PBB di Kairo, tahun 1994. Ketika itu terbentuk koalisi konservatif antara Vatikan, negara-negara Islam, dan sejumlah negara Amerika Latin, menentang usul pengakuan hak pengguguran kandungan.

    Harapan baru
    Selain negara-negara Uni Eropa, beberapa negara Amerika Latin dan lima negara Afrika, di antaranya dua anggota OIC yaitu Gabon dan Guinea-Bissau, juga mendukung Deklarasi Belanda/Prancis ini. Dari dulu, Afrika selalu merupakan benteng penentang hak kaum homo. Di beberapa negara Afrika, masih berlaku undang-undang anti homo yang sangat keras. Tapi, baik di Afrika, maupun di Amerika Latin, situasi berubah cepat, kata Boris Dittrich.

    Boris Dittrich: "Misalnya, negara seperti Argentina. Tapi juga Brasil dan Uruguay telah menyesuaikan undang-undang mereka. Bahkan di Argentina ada RUU pernikahan sejenis. Jadi, di Amerika Latin sudah ada kesadaran bahwa hak kaum homosexual adalah juga hak azasi manusia, setelah masa diktatur militer. Kini, lima negara Afrika juga sudah berani secara terbuka membicarakan masalah ini. Mereka mendapat tekanan keras dari negara-negara Afrika lainnya. Namun, sikap mereka tetap, harus ada perubahan".

    Kalangan pembela hak kaum homo berharap deklarasi ini akan menjadi langkah pertama ke arah resolusi resmi PBB. Untuk itu, perlu ada mayoritas suara di Majelis Umum. Boris Dittrich memperkirakan, itu baru akan tercapai beberapa tahun mendatang.


    Kata Kunci: homoseksual, homosexual, Muslim, PBB, Tahta Suci Vatikan


    kutipan : hartoyo, 27-12-2008 - Indonesia

      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:20 pm