Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Don't Give Up Chapter VIII

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Don't Give Up Chapter VIII

    Post  ambrochius on Fri Jan 23, 2009 11:22 am

    Chapter VIII Sleep with the enemy


    Hari-hari yang kulalui di panti asuhan selepas peristiwa terungkapnya kenapa aku berada di panti dan terutama sejak kejadian Bruder marco menciumku waktu itu terasa sangat berbeda. Entah kenapa setiap mendengar nama Bruder Marco atau mendengar suaranya dari kejauhan hatiku bergetar. Jangan tanyakan bagaimana saat aku berpapasan atau berhadapan muka dengannya. Seolah tubuh ini hanya terdiri dari daging dan air tanpa tulang, lemas tak kuasa berdiri. Seperti kebanyakan remaja pada umumnya bila jatuh cinta pada saat pertama kali, semua terasa indah dan berbunga, bedanya aku menaruh hatiku pada seseorang yang lebih dewasa, dan. . . dia pria juga. Tak terhitung berapa bait puisi yang kutulis dalam buku harianku yang menggambarkan betapa aku diselubungi oleh Dewi Amor. Tak henti-hentinya Dewa Cupid menghujamkan panah asmaranya saat aku berbincang dengan Bruder Marco, entah dia merasakan hal sama atau tidak. Ku tahu ini salah, tapi aku tak kuasa untuk menolaknya. Seandainya air mata ini jadi darah, mungkin PMI sudah menyimpan berlabu-labu darah golongan B yang mereka terima dariku. Doa malamku selalu dihiasi dengan air mata penolakan terhadap perasaan ini. Tapi sebuah Doa seakan menjadi penitensi (penghapusan dosa) bagiku, “Jadilah padaku menurut perkataanMU”. Akhirnya aku mengaku kalah dengan gejolak asmara sejenis ini, di tambah lagi sekarang aku menjadi pengurus paduan suara panti, maka makin lengkaplah intensitas kedekatanku pada Bruder Marco.
    “Ambro kamu dipanggil Bruder Marco ke ruangannya”, Bruder Clemens memberitahukanku pada saat kami berpapasan di selasar panti selepas makan malam. “Ini tolong di foto copy sebanyak anggota paduan suara”, bruder Clemens memberikan partitur lagu-lagu Natal untuk diperbanyak. Aku raih tumpukan partitur itu dari tangan bruder Clemens, kuperiksa sekedarnya, Beruder Clemens masih mematung berhadapan denganku kalau - kalau aku hendak bertanya sesuatu. Bruder Clemens adalah Organis panti. Dia bahkan mengajari kami termasuk aku untuk belajar memainkan organ dan piano gereja. Sekali waktu aku pernah dibawanya untuk melihat dia bermain Orgel di Katedral Jakarta. Tanpa rasa jumawa aku akui memang aku cepat menyerap ilmu yang diberikan Bruder Clemens, sesekali aku membantu beliau untuk mengiringi Misa Mingguan di Gereja Kramat atau ibadat harian di kapel panti. “Lagu Kyriale-nya mana Bruder?” tanyaku pada Bruder Clemens setelah memeriksa partitur yang ada di tanganku ternyata belum ada lagu-lagu ordinariumnya. ”Itu sebabnya kamu dipanggil Bruder Marco”, Bruder Clemens menjelaskan,”Ordinariumnya masih berupa not balok, kamu diminta mentranslate ke dalam not angka”, tambah Bruder Clemens. ”Kenapa harus saya?” tanyaku heran, “bukankah biasanya sudah diterjemahkan oleh Bruder sendiri atau Bruder Marco”, kataku menjelaskan keherananku. “Tulisan tangan kamu lebih rapih untuk menulis partitur terjemahan not angka dari pada kami”, Bruder Clemens memandangku sambil tersenyum. Ada rasa bangga juga bisa mendapatkan tugas baru yang sesuai dengan hobby ku. “Cepat Bruder Marco sudah menunggu” Bruder Clemens berlalu kearah ruangan tengah panti seiring langkahku menuju ruangan Bruder Marco. Jantung ini berdegup lebih kencang dari biasanya.
    “Masuk”, ah mendengar suaranya saja membuatku bergetar, segera aku membuka pintu setelah sebelumnya ku ketuk pintu keramat ini. Kulihat Bruder Marco , Sang Julius Sitanggang tampak berdiri gagah dengan setelan jeans dan kaos hitam bergambar Thao (Huruf T dalam ritus Ordo Fransiscan) tersenyum ke arahku. Aku berdiri mematung, tak tahu harus berbuat atau bahkan berkata apa. Dengan keberanian seadanya aku memulai percakapan, “Bruder memanggil saya?” Persis seperti seorang anak yang kedapatan sedang mencuri mangga tetangga, begitulah sikapku dihadapan Bruder Marco. “ Kemari Ambro, Bruder minta tolong kamu untuk menerjemahkan Ordinarium ini ke dalam not angka”, Bruder Marco mendekati meja kerjanya sambil matanya terus menatapku. “Tolong dibuat spasi agak berjarak agar tidak terlalu rapat dan sulit dibaca ya”, seringai itu lagi, deretan gigi putih bagai sekumpulan biji mentimun yang tertata rapih. “Coba kamu lihat dulu” seraya menarik kursi untukku dengan maksud agar aku duduk di mejanya, tapi kali ini bukan kursi tamu, yah, kursi Bruder Marco sendiri. Aku duduk dimana Bruder Marco biasa duduk, kucoba untuk bersikap setenang mungkin walau ku tahu sulit. Seandainya dia menyentuhku mungkin akan terasa menyentuh mayat, dingin! Jika peristiwa ciuman itu tidak terjadi tentu saja lain hal bila aku berada dalam situasi yang bagi orang lain sangat lumrah dan normal ini. “Kapan harus selesai Bruder?” kataku sambil menutupi rasa yang berkecamuk. “Kalau bisa lusa sudah bisa kita pakai untuk latihan” Bruder Marco menjelaskan, “kamu sedang tidak banyak tugas sekolah bukan? Bruder harap begitu”, dia tahu bahwa menjelang akhir tahun biasanya tugas sekolah berkurang, tapi akan lebih banyak ulangan karena saatnya Ulangan Umum sebelum libur panjang.” Baik Bruder”, jawabku singkat sambil beringsut dari tempat dudukku hendak menuju kearah pintu. “Ambro tunggu!” suara Bruder Marco tegas dan terdengar sedikit bergetar. Aku tidak jadi berdiri. “Bruder punya sesuatu untukmu” Bruder Marco menghentikan gerakanku dengan kata-katanya sambil berlalu ke ruang tidurnya. Aku menunggu. Kemudian dia kembali dengan membawa sebuah kotak transparan yang aku tebak mungkin itu berisi sesuatu yang terbuat dari kain. Benar saja, Bruder Marco mengeluarkan sebuah celana boxer warna hijau toska dan memberikannya kepadaku. “Coba ini!” Dia memang Bruder tanpa banyak kata, namun sekali dia berucap hal itu bagaikan sihir yang membuatku melakukan apa saja seperti yang disabdakannya. “Baik Bruder, terima kasih” kataku sambil mengapit celana itu dan hendak menuju pintu kembali. “Kamu coba disini, mau kemana?” ada campur tawa kecil dalam kata-katanya yang terakhir, seolah aku sedang melakukan lawakan yang dianggapnya lucu. Aku bingung tak tau harus bagaimana, kuputuskan untuk mencobanya dengan memakainya dobel dengan celana yang sedang kukenakan sekarang setelah sebelumnya kuletakkan partitur yang akan kuterjemahkan di atas meja Bruder. “Mana Bruder tahu kalau itu muat atau tidak”, Bruder Marco melihatku kikuk mengenakan celana yang kupaksakan dipakai dobel itu, “ lepas celanamu dulu baru kemudian kamu coba celana yang baru Ambrosius!” masih sambil menyeringai menebar tawa kecilnya Bruder Marco bergerak ke arahku, seraya membantuku untuk melepaskan celana yang saat itu kupakai. Aku risih. “Kenapa? Malu?” Bruder dalam posisi setengah berjongkok dihadapanku berhenti memegangi celanaku. Aku diam tidak memberikan jawaban. Seakan tahu apa yang ada di pikiranku Bruder Marco tidak jadi membantuku melepaskan celana yang kupakai, alih-alih malah dia meninggalkanku menuju kamar tidurnya kembali. Kupikir dia memberiku privasi untukku, buru-buru aku lepas celana yang kupakai untuk diganti dengan celana boxer pemberiannya. Belum sempat celana Boxer hijau toska itu aku pakai Bruder Marco sudah keluar lagi dengan celana Boxer ditangannya dengan warna yang sama tapi dengan ukuran yang lebih besar, tentu miliknya, tapi astaga! Dia hanya mengenakan celana dalam. Aku beku. “Nih Bruder juga punya, ayo kita pakai sama-sama” Bruder Marco seolah berbela rasa dengan ikut bertelanjang dan hanya menggunakan kaos serta celana dalamnya saja. Aku masih beku. Seolah aku baru saja melihat Medusa dengan kepala berambut ular yang bila siapapun yang melihatnya akan berubah menjadi batu. Aku masih mematung. “Kenapa Ambro?” ada wajah kekhawatiran yang amat sangat dari roman muka Bruder Marco melihatku terpaku mematung.” Kamu sakit? Kenapa?” Bruder Marco menguncang-guncangkan tubuhku yang mematung. Segera didekapnya aku. Bayangkan, dia seorang pria berperwakan tinggi besar, sedangkan aku anak SMP berperawakan sedang, posisi mendekap Bruder Marco menempatkan bagian bawah pusarnya menempel didadaku. “Maafkan Bruder ya kalau bruder salah”, masih dalam posisi mendekapku tak henti-hentinya dia mencium ubun-ubunku. Saat itu hilang semua kebekuanku. Jujur aku suka, gairahku bangkit. Ya Tuhan, perasaan macam apa yang aku miliki, setan mana yang berkelebat ditempat kami berdiri. Terakhir yang kuingat adalah Bruder Marco menciumku kembali tepat dibibirku, seraya membopongku ke kamar tidurnya.

    TO BE CONTINUE

      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 10:52 pm