Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Don't Give Up Chapter X

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Don't Give Up Chapter X

    Post  ambrochius on Fri Jan 23, 2009 8:19 am

    Chapter X Blue Christmas


    Sepotong lasagna tidak habis kumakan, masih ada sepertiga bagian lagi saat kuselesaikan tegukan terakhir lime juice yang kupesan, sementara Albert tak henti-hentinya dari tadi sibuk membalas SMS ucapan selamat Natal seraya mengorek-ngorek pinggan fetuccini yang habis licin tak bersisa. Tak banyak yang kami perbincangkan di waktu makan malam ini, toh dia juga sibuk dengan SMS nya dan aku juga mencoba menyibukan diri dengan sesekali menemui Rini atau Greg kalau-kalau ada masalah yang terjadi dalam operasional Resto. Hanya sekali makanku terganggu saat Anton Manager Villa hendak pamit pulang, dia tahu kalau aku masih ada di resto. Setelah sedikit berbasa basi tentang tugas operasional, Anton pun meninggalkan aku dengan Albert yang mengangguk seadaanya saat Anton berpamitan.
    Jam tanganku menunjukan pukul dua belas malam saat kami meninggalkan area resort, walau tamu di resto masih penuh ku instruksikan pada Rini untuk Last Order saat itu juga, aku tak mau karyawanku sakit kelelahan, weekend ini masih panjang, ada satu tanggal merah lagi sebelum tanggal satu Januari datang. Di perjalanan aku dan Albert tak banyak bicara, aku faham betul sifatnya. Dia orang yang ramai saat bersama teman-temannya, General Manager yang tegas saat berada di pabrik garment ayahnya, namun saat bersamaku dia berubah seratus delapan puluh derajat menjadi orang yang sangat pendiam. Kami mulai berhubungan sebagai sepasang kekasih setahun yang lalu, tepat hari ini adalah anniversary kami yang pertama. Walau sebelumnya sejak hari pertama aku bekerja di resort ini tiga tahun yang lalu aku sudah diperkenalkan oleh Ibu Maria kepada Albert.
    “Ambro ini Albert kemenakan Ibu”, demikian saat itu Ibu Maria memperkenalkan aku dengan Albert. “Dia juga ikut membantu mengawasi operasional disini” tukas Ibu Maria lagi. Seorang pemuda yang mungkin hampir sebaya denganku, dengan perawakan yang bersih, rapih dan wangi. Dasi biru dongkernya sepadan dengan warna kemeja biru langitnya. “Saya Ambrosius Pak”, kataku memperkenalkan diri dengan hormat kepada Albert. “Dia Operational Manager yang baru di sini”, demikian Ibu Maria menerangkan posisiku di depan Albert. Dengan senyum seadanya dan tangan yang diulurkan, Albert menjabat erat tanganku. Ada kelembutan pada jabatan erat dan mantap tangannya sewaktu kami bersalaman. Maklum mungkin sering body treatment pikirku, orang muda dan kaya seperti apa yang walau lelaki sekalipun di jaman sekarang ini yang tidak ingin tampil trendi dan cosmo appearance. “Aku segera bergegas meninggalkan bibi dan kemenakannya itu untuk melanjutkan pekerjaanku setelah sebelumnya berpamitan ala kadarnya kepada Ibu Maria dan Albert.
    Setelah pertemuan pertama kami, aku agak sering bertemu Albert, baik itu di resort ataupun pada saat rapat dengan jajaran direksi di apartemen milik Ibu Martha. Dari informasi yang kudengar Pak Salim ayah Albert memiliki sedikit saham atas nama Albert di resort tempat aku bekerja. Wajar kalau Albert juga merasa berhak untuk ikut campur mengobok-obok urusan operasional resort, walau interview yang kujalani berjalan mulus di saat terakhir sesi wawancara bukan dengan Albert tetapi dengan Ibu Maria langsung. Kami, aku dan Albert, banyak berdiskusi tentang permasalah operasional, walaupun dia juga bisa dikatakan pemilik tapi Albert nol besar tentang Standar Operational Procedure jalannya sebuah usaha Resort, maklum dia lulusan MIPA.
    Sebelum aku hadir secara pribadi dalam kehidupan Albert, aku sudah bisa mengira-ngira bahwa Albert mungkin juga seorang gay. Terkadang dia ajak beberapa teman-teman gaynya untuk makan di resto atau menginap bersama rombongannya di villa. Benar kata orang, seorang gay sejati seolah-olah memiliki radar tersembunyi yang akan berkedip begitu berada bahkan kurang dari sepuluh meter jauhnya dari seorang gay lainnya. Bagiku aku tak perlu radar untuk mengetahui bahwa Albert seorang gay, dari teman-temannya yang sering dibawanya kebanyakan dari mereka berkaos ketat a la Saiphul Jamil, belum lagi bahasa banci salon a la Debby Sahertian yang mengumbar gelak tawa seiring mereka bersenda gurau. Bagiku itu semua sudah cukup merupakan bukti yang mumpuni.
    Dua puluh empat Desember setahun yang lalu, saat aku hendak bersiap-siap untuk pulang, Albert mendekatiku. “Mau pulang Mbro?” Tanya Albert sambil berlari kecil ke arahku. “Belum Bert, masih akan ke daerah villa untuk kontrol terakhir”, jawabku yang sudah tidak canggung lagi dengan singkatan nama tanpa embel-embel Bapak di depannya, dia sendiri yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan nama tanpa harus ber-bapak-bapak lagi. “Main ketempatku yuk”, Albert mulai menebar jerat perangkapnya yang aku tahu kebetulan memang Papi-Maminya sedang keluar kota, anehnya aku sadar akan hal itu dan aku senang dijerat, dasar binan! Kuyakini Albert mungkin juga sudah mengetahui keadaanku. Walau aku tampil senormal mungkin, bahkan sering bepergian bersama teman-teman manager wanita yang lain, namun tak dapat disangkal, radar Albert mungkin sudah sekelas satelit. Aku meminta waktu barang seperempat jam untuk mengontrol operasional villa sebelum akhirnya aku berada di dalam mobilnya Albert menuju kawasan Bukit Dago Pakar, rumah Albert yang ditinggalinya bersama kedua orangtuanya.
    “Mau minum apa Mbro?” begitu Albert bergegas kearah mini bar di sudut ruangan tengah rumahnya setelah aku bersandar pada sofa empuk yang lebar di ruangan itu. Rumah besar bergaya minimalis dengan banyak konstruksi garis dan sudut runcing di sana sini, kebanyakan menampilkan unsur kayu dan batu alam. “Air mineral saja Bert, aku haus” jawabku jujur. Tak berapa lama Albert datang menggenggam dua botol minuman air mineral ditangannya. “Bagaimana sejauh ini operasional resort Mbro?” Albert bertanya kepadaku, seolah dia orang luar yang tidak tahu apa-apa tentang keadaan resort selama ini, padahal dia sering nongkrong si sana, bahkan laporan Cash flow nya pun tak pernah terlambat datang ke meja kerjanya di pabrik garment di bilangan Cimahi, seringnya malah dia yang datang sendiri untuk mengambil laporan tersebut. “Yah begitulah, semua berjalan lancar, hanya mungkin tahun depan aku harus mengajukan sedikit keringanan untuk target tiga puluh persen dari Primary Project yang direksi berikan”, secara tidak langsung aku berkata tepat untuknya, “Lagi pula forecast yang aku ajukan jauh dibawah itu dengan berbagai pertimbangan”, tambahku pula berharap dia mau mengerti. “Ah masa increasing profit sebesar tiga puluh persen saja kamu gak berani Mbro”, kali ini Albert merapatkan tubuhnya sambil merangkulku dari belakang, seolah seorang sahabat yang mencoba membesarkan semangat kawannya yang kalah perang. Aku menggeser dudukku agak kedepan, “yah itupun kalau direksi setuju, lagi pula bidang business yang lain juga kan lesu”, Aku sedikit mengelak dari pernyataan maupun sikap tubuh Albert kepadaku. Aku tahu betul business garment sedang lesu akibat dolar yang semakin merangkak naik, atau property Pak Salim yang juga kena imbas protes masyarakat sekitar akibat masalah daerah resapan air di wilayah tempatnya nanti akan mendirikan perumahan baru. “Coba nanti aku bicarakan dengan Kukuh (panggilan Albert kepada Ibu Maria) tentang ini,” seolah Albert berusaha membelaku, seraya melingkarkan lengannya ke pundakku, “Merry Christmas buddy!” begitu selesai Albert mengatakan hal itu tanpa adanya peringatan tanda bahaya tiba-tiba Albert mendaratkan ciumannya ke pipiku. Aku gamang tak tahu harus berkata apa, dan sebelum kusadari keadaan yang sebenarnya terjadi, bibir Albert sudah mengulum bibirku dengan satu hentakan lembut, merebahkan aku pada sofa besar di ruangan itu. Itulah kali pertama aku berhubungan secara fisik dan phiskis dengan Albert. Dan sejak saat itu Albert resmi memanggilku dengan sebutan “BABE” yang hanya kami berdua yang tahu.
    Mobil Albert telah masuk ke halaman rumahku, mobilku sengaja kutinggalkan di resort, dengan harapan besok aku akan ke resort agak siangan diantar Albert. Seperti biasa Baron si kucing domestic jantanku itu mengeong-ngeong mengitari kakiku minta disayang, sementara chita si angora betina yang sedang bunting dengan malas mengikuti langkahku dengan sudut matanya yang setengah terpejam.
    Belum sempat aku berjalan ke kamar setelah mengunci pintu depan tiba-tiba Albert merengkuhku dalam pelukannya, dalam satu pagutan mesra dia mulai menciumku dengan lembutnya. Sesaat kami berpandangan tanpa kata, hanya mata kami yang bicara. “Maafkan atas semua kelakuanku padamu”, Albert membuka suara, aku diam masih dengan mulut terkunci dengan mata yang tak lepas dari pandangan hangatnya. “Merry Christmas buddy!”, kata-kata yang dia ucapkan setahun yang lalu kembali bergaung ditelingaku. “Happy Anniversary honey!” jawabku setengah berbisik. Kami berdua tenggelam dalam pelukan dengan seribu kata bisu, biru, sebiru Natal tahun ini.


    TO BE CONTINUE

      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 10:53 pm