Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Don't Give Up Chapter VII

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Don't Give Up Chapter VII

    Post  ambrochius on Fri Jan 23, 2009 4:23 am

    Chapter VII Silent Night


    Aku tidak memperhitungkan keadaan bahwa jalan di Bandung akan macet total sore ini, benar dugaanku, mobil dengan plat nomor B berjejal seolah ingin mendahului satu dengan yang lainnya. Aku tidak mempersalahkan mereka, justru karena merekalah kota Bandung jadi hidup dan berdenyut cepat. “Tenang saja Mbro, masih jam tujuh koq”, Ibu Maria yang duduk disebelahku mencoba menenangkan aku yang memang sedang stress melihat panjangnya antrian kendaraan ini, hampir tidak bisa bergerak sama sekali. Biasanya kalau Pak Mul yang bawa mobil ini Ibu Maria duduk di belakang, tapi kali ini beliau duduk di sebelahku, bagiku sama saja, toh Pak Mul dan aku sama-sama karyawan Ibu Maria. Tadi sewaktu aku hendak membukakan pintu belakang mobil mempersilahkan Ibu Maria untuk naik dia malah memutar arah dari depan mobil dan langsung menempati tempat duduk di samping driver tanpa memandang ke arahku sedikitpun. What ever, pikirku. Aku masih diselubungi rasa geram terhadap sikap Albert sewaktu meninggalkan resto tadi.
    Tepat sewaktu iring-iringan prosesi Pastor yang membawa patung bayi Yesus dan misdinar memasuki pintu utama Katedral, aku menyelinap diantara anggota paduan suara yang lain dalam kegelapan suasana temaram gereja yang memang sengaja diredupkan, sedikit terengah-engah karena lelah berlari. Aku mendapatkan parkir agak jauh dari gereja. Natal seperti ini biasanya memang dijejajali oleh umat yang Misa, aku sendiri heran kenapa di hari minggu biasa keadaannya tidak seperti ini. Teringat olehku akan kotbah Pater Francis sewaktu kuliah dulu, biasanya memang hari Natal dijejali oleh umat Katholik NaPas artinya hanya ke gereja sewaktu Natal dan Paskah, walau memang hanya sebagian kecil namun berdampak luar biasa, terlihat dari berjejalnya umat yang hadir. Beruntung aku ikut paduan suara, pasti ada tempat untukku, ku ajak pula Ibu Maria untuk bergabung bersamaku, aku tak tega meninggalkan Ibu Maria mencari tempat duduk sendiri dalam suasana padat seperti ini, itupun kalau dapat.
    Di Podium Dirigen kulihat Albert sudah bersiap untuk lagu prosesi, lepas dari sikap kekanak-kanakannya, ku akui dia memang tampan. Dengan kemeja merah terang dan syal putih bermotif tuts piano, serta sejumput rangkaian kecil bunga merah berdaun hijau tersemat didadanya, membuat dia menjadi pemandangan Natal yang memang sedap untuk dipandang. Malam Kudus pun mengalir dari mulut para anggota paduan suara, selalu memberikan keharuan yang tak terbantahkan dan tak terkatakan bagi siapapun yang mengimani Yesus sebagai Bayi Kudusnya. Sekitar jeda dua deret kursi dari seberang tempatku berdiri, kulihat Ibu Maria menyeka air matanya. Entah untuk siapa air mata itu mengalir. Untuk almarhum suaminyakah? Kedua anaknyakah? Untuk Bayi Yesus yang lahir di kandang? Untuk Albert? Tapi yang jelas tentu bukan untukku. Laguku ku dendangkan, tapi mataku masih terpaku pada Ibu Maria, sedang hatiku entah berkelana kemana. Dari sudut mata kulihat Albert melihatku, dia tahu aku sedang memperhatikan bibinya, bukannya malah berkonsentrasi melihat gerakan tangannya. Lagi-lagi raut muka itu yang aku hafal betul. Gaya ngambek nya Albert. Typikal!
    “Begitu besar kasih Allah akan dunia karenanya Dia menganugerahkan AnakNya yang tunggal kepada kita”, Pastor Bimo dalam kotbahnya mengutip sebuah ayat dalam Kitab Suci yang menggambarkan kecintaan Allah yang luar biasa kepada manusia. Pikiranku menerawang, apakah ayah ibuku juga sangat besar kasihnya kepada Panti Asuhan sehingga ia menganugerahkan aku ke sana? Perang Bintang kalau benar iya, gerutuku dalam hati. Entah kenapa setiap Natal tiba aku selalu merasa kosong, hampa. Pikiran positifku mengajukan apology, setidak-tidaknya berarti ada ruang yang luas untuk Yesus hadir dalam hatiku. Saking luasnya sehingga Yesus pun kesepian di dalam sana, karena aku yang empunya hati justru malah tidak hadir di sana. Ah kacau! Selebihnya kotbah Pastor Bimo hanyalah merupakan rentetan kalimat tanpa makna yang tak bisa kucerna, bukan karena Pastor Bimo yang berkotbah terlalu teologis dogmatis, dia memang Pastor yang baru ditahbiskan tahun ini, wajar kalau pikiran filsafat teologinya masih mengkristal dalam otaknya, jadi kotbahnya memang mirip kuliah filsafat di seminari tinggi. Bukan! Bukan karena itu, aku memang sedang tidak berkonsentrasi pada kotbah pastor Bimo, aku sedang asyik dengan pikiranku sendiri. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan getar HP dalam casing yang kusematkan di ikat pinggangku. Mendadak aku khawatir dengan jalannya operasional di resort, mudah-mudahan semua berjalan lancer, buru-buru aku lihat Hpku. Bushyet! Sempat-sempatnya Albert mengirimkan SMS sewaktu misa, kubaca pesan singkat darinya, “KENAPA TELAT???” lengkap dengan huruf kapital dan tanda tanya yang tak cukup cuma sekali. Dalam hati aku bersyukur ini bukan kabar dari resort, di sisi lain kejengkelanku memuncak. Tidak bisakah dia menunggu Misa selesai untuk menanyakan hal yang bagiku sama sekali tidak penting. Bila tidak kubalas SMS nya pasti dia marah, tapi bila kubalas pasti dia terus-terusan ber-sms ria menanyakan hal-hal yang kurang penting. Kebiasaan buruk sewaktu Misa pikirku. Akhirnya dengan berat hati kubalas pesan singkatnya dengan jawaban “nanti aku jelaskan”, berharap dia tidak akan berbalas SMS lagi. Dugaanku benar, HP ku bergetar lagi. Kali ini aku tidak peduli.
    Ada sekitar sepuluh lagu pretorium (lagu pembukaan, antar bacaan, persembahan, komuni, penutup) di luar lagu-lagu ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus, Agnus Dei) yang kami bawakan untuk misa malam Natal ini, itu belum terhitung lagu-lagu yang dinyanyikan sewaktu Christmas Carol tadi sebelum Misa berlangsung. Albert sendiri sudah menyiapkan sekitar lima lagu cadangan kalau-kalau komuni akan terasa panjang. Kebanyakan lagu-lagu Folk Song Crhistmas Carroling, yang lainnya diambil dari buku Puji Syukur. Aku kenal betul lagu-lagu ini, “Transeamus” adalah lagu yang kuhafal di luar kepala sewaktu masih di Panti Asuhan dulu. Pikiranku menerawang jauh ke masa-masa sibuk dipanti asuhan dalam persiapan Natal.


    TO BE CONTINUE

      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:19 pm