Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Don't Give Up Chapter IV

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Don't Give Up Chapter IV

    Post  ambrochius on Thu Jan 22, 2009 8:38 am

    Chapter IV Mr.Right or Wrong


    Jam wekerku menjerit nyaring membangunankanku dari mimpi dikejar-kejar Monster Jack Frost yang putih besar. Terima kasih weker ayamku, I have been saving by the bell. Bahkan mimpikupun bernuansa natal, mengerikan! Hari masih gelap ketika adzan subuh berkumandang, yah hari ini aku harus berangkat kantor agak pagi untuk mengantar Mr.Greg belanja sedikit kebutuhan dapur Restonya di Pasar Lembang. Heran aku dengan manusia ini, paling anti dengan suplyer Fresh Good, padahal barang yang mereka tawarkan lebih murah dengan kualitas baik, diantar pula ke Resto, toh mungkin sama juga sayur dan buah itu bisa saja dari pasar Lembang juga. Orang ini punya krisis kepercayaan terhadap orang lain. Bergegas aku keluar kamar rumahku, yang tidak seberapa besar tapi cukup nyaman dan sejuk untuk ditinggali. Dari cicilan KPR yang kudapat aku bisa membeli rumah ini, daerah kompleks perumahan di bilangan Bandung Utara, hawa yang sejuk menerobos masuk lewat celah jendela yang aku buka. Tanpa sengaja hampir saja aku menginjak si Baron yang sedang tidur, kucing domestic jantan yang aku temukan di jalan berbulu putih coklat, kedapatan sedang meringkuk bersama Chita, kucing angora hitam berumur 1 tahun yang sedang bunting yang kubeli di Pet Shop enam bulan yang lalu. Entah kenapa mereka cepat akrab, walau hari-hari pertama memang saling menggeram satu dengan lainnya. Aku perlu teman di rumah pikirku sewaktu kubeli Chita. Peduli amat kucing Ras kawin dengan kucing Domestik, sejak kapan manusia juga ikut-ikutan menentukan kucing harus kawin dengan siapa. Mungkin orang lain iya, tapi tidak untukku. Aku penganut paham persamaan gender, ras, religious dan status sosial. Mungkin karena aku Gay atau mungkin juga karena aku terlalu sinis melihat dunia, entahlah.
    Jalan masih gelap sedikit temaram, mentari malu-malu muncul di balik bukit Dago. Bandung memang indah ketika pagi hari, tapi jangan bilang waktu siang, macet, semrawut, dan satu lagi, sampah, mungkin itu PR Pemkot Bandung yang tak pernah selesai. Apalagi di musim liburan seperti ini, mobil dengan plat nomor B mendominasi daerah Bandung Utara dan sekitarnya, yah karena disanalah berdiri sekian banyak resto, hotel dan factory outlet. Peduli amat dengan sistem tata kota atau daerah serapan air, bahkan mungkin orang Jakarta lebih hafal Bandung ketimbang orang Bandung nya sendiri soal tempat wisata dan belanja.
    Membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di apartemen Greg, sampai di tempat parkir aku telepon dia, aku malas untuk turun dan berbasa basi dengan front office lobby apartementnya, mereka kenal aku, tentu saja, apartemen ini milik cici (kakak perempuan) Ibu Maria, Ibu Marta, ruangan meeting roomnya sering kami gunakan untuk rapat besar dengan jajaran direksi dan segenap trah keluarga besar Tuan Tan almarhum, ayah Ibu Maria dan Ibu Marta. Seorang Taipan kota Bandung yang sewaktu hidupnya paling sering kelihatan pakai celana pendek dan kaos oblong kalau rapat, persis Bob Sadino konglomerat dari Jakarta itu, ada-ada saja ulah orang kaya.
    Mesin mobil masih menyala saat kulihat Greg bergegas keluar lobby apartemennya. Dia punya scuter yang selalu menemaninya berangkat kerja walau Ibu Maria memberikan mobil operasional lengkap dengan drivernya, tapi memang Greg orang yang unik. Dengan tinggi seratus delapan puluhan, paruh baya sekitar kepala empat, dengan sedikit uban yang dibiarkannya memerak di sekitar pelipis membuat dia tampak sangat mature dan tampan, kalau orang yang tak kenal mungkin dia disangka artis holywood. Banyak wanita yang suka padanya termasuk Rini Manager Resto ku itu, dalam hati aku tertawa. Greg memang suka yang feminim tapi berjenis kelamin pria, sissy tepatnya. Kami saling mengetahui orientasi sex kami saat secara tidak sengaja kami chatting dalam room yang sama, kaget campur geli saat aku melihat greg di webcam, face to face menelisik ciri – ciri lawan chatting satu sama lain. Aku sudah bekerja di resort itu waktu chat pertama kali kami yang aku sebut blessing in disguise itu. “Morning dude!” sapanya sambil tersenyum. “Morning!” balasku, bergegas dia masuk ke dalam mobilku dengan sedikit rambut yang acak-acakan, aku tahu dia belum mandi, dasar bule jorok! “So how’s your sleep tonight? Tight well huh?” Greg membuka percakapan sekeluarnya kami dari apartemennya. “Nightmare with Jack Frozt behind me”, timpalku. Greg bisa sedikit berbahasa Indonesia, itupun karena dia belajar di Resort. Dia bekerja di Resort atas ajakan Samuel anak Ibu Maria yang kuliah di Amerika. Bagaimana kenalnya dan seperti apa hubungan mereka aku tak mau tahu dan tak ambil pusing soal itu. Kami bertukar pikiran di jalan tentang pekerjaan terutama persiapan Christmas Dinner nanti malam dan esoknya, sesekali dia timpali dengan candaan ala gay yang aku sendiri risih mendengarnya.
    Berkilo sayur dan buah sudah Greg beli di langganan sayurnya Pak Asep, tentu saja dengan aku tampil sebagai penterjemah pasar, dasar Greg menambah pekerjaan saja pikirku. Semua belanjaan itu akan dikirim ke Resto dengan mobil bak terbuka Pak Asep, langganan sayur Greg di Pasar Lembang yang sudah enam puluhan tapi masih jagjag waringkas (kuat perkasa), orang desa memang sehat-sehat, lain dengan orang kota yang kuat dengan supplement dan rutin ke gym.
    Sampai di resort kulihat pegawai sift malam sedang menyerah terimakan tugasnya di sift pagi. Sedikit sapaan selamat pagi kubalas dengan senyum sambil bergegas ke ruanganku. Kantukku belum hilang, serasa masih ada setumpuk balok di pelupuk mata saat kulihat Greg datang dengan nampan berisi kopi dan setumpuk roti isi buatannya sendiri. Greg memang terkenal disiplin dan paling teliti soal Raw Material baik Dry maupun Fresh Good, semua barang dan bahan makanan sekecil biji ketumbar pun dia tahu dan hafal dimana meletakkanya. Tak jarang dia meminta Ibu Maya Manager HRD kami untuk mengeluarkan SP bagi cook yang menurutnya kurang bersih dan rapih, seringkali bahkan keterlaluan sampai mereka mengadukan hal itu padaku. Bayangkan, gara-gara sekerat daging steak yang tidak jadi dimakan oleh tamu dan akan dimakan oleh karyawan, Greg ngamuk sampai mengeluarkan makian khas ala italinya, padahal toh makanan itu sudah dibayar dan hal itu bukan kesalahan karyawan, tamunya tidak jadi makan karena ada urusan mendadak, itu saja! Aku sempat berbincang dengan Greg tentang hal ini, bahkan sempat aku minta tolong David, pacarnya yang juga bule di apartemen yang sama agar menasihati Greg soal anger managementnya itu, tapi tetap gaya itali ala Mafiosonya itu yang muncul. “Here you are” Greg dengan telaten menyuguhkan sarapan pagi itu untukku. Dia menyeruput orange juice sambil menatapku, sesekali memasukan potongan omlet kemulutnya sambil matanya tak lepas dari caraku menyantap sarapan pagi buatannya. “You now what?” Greg membuka percakapan. “What?” sambil mulutku masih penuh dengan gigitan sandwich, “If you are more feminim than this and not too manly, I think I like you!” greg menggoda dengan senyum nakalnya, “Yeah, you wish!” jawabku sambil berlalu membawa piring kotorku ke kitchen di belakang kantor, ”by the way thanks for the breakfast”, kukatakan sambil memunggungi Greg dengan berjalan santai. “You’re welcome babe!” Greg membalas. “BABE” ah.. . sapaan khas Albert kepadaku. Tak sabar ku menunggu Misa Malam Natal nanti.

    TO BE CONTINUE

      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 10:52 pm