Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Don't Give Up Chapter III

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Don't Give Up Chapter III

    Post  ambrochius on Thu Jan 22, 2009 5:00 am

    Chapter III Silent of the Lamb


    Doa Malam kali ini semakin membuatku gelisah, hampir sepanjang sore hingga waktu belajar tadi aku tidak memahami apapun selain PR yang kubuat semampuku. Pikirku aku akan menyalin PR Aldi besok pagi hanya untuk menyamakan jawaban yang sudah kubuat, toh bukan mengutip secara keseluruhan. Secarik Puisi kubaca lagi diselembar kertas lusuh yang sudah keremas dan tak jadi kubuang tadi saat kutulis selepas jam belajar malam


    Bapa kami yang ada di Surga
    Katanya Engkau Bapa untuk semua, tapi kenapa aku tidak punya Bapak yang aku miliki sendiri, jangan berpikir tentang Ibu, Bahkan Yesus pun punya Bunda Maria.
    Dimuliakanlah NamaMu
    Aku tidak minta kemuliaan karena itu sudah Engkau yang punya, aku hanya ingin tahu Ibu Bapakku, apakah mereka juga orang-orang mulia dan terpandang? Atau bahkan mungkin mereka orang yang hina dan tersisihkan?
    Datanglah KerajaanMU
    Bukan Kerajaan yang aku mohon, hanya sebuah keluarga yang mau menerimaku apa adanya.
    Jadilah KehendakMu di atas Bumi seperti di dalam Surga
    Kalau aku mau, aku bisa memaksakan kehendaku untuk lari dari Panti dan mencari keluargaku, peduli amat dengan lapar atau hujan, di Panti atau di luar Panti bagiku sama saja
    Berilah kami rejeki pada hari ini
    Kalau aku dapat sepotong roti dari Suster, bagaimana seandainya aku dapat sekerat remah dari seorang Ibu?
    Dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun menganpuni yang bersalah kepada kami
    Salahkukah aku ada di Panti? Salah merekakah yang mengirimku ke Panti? Aku sudah memaafkan mereka ya Tuhan
    Dan janganlah masukan kami kedalam percobaan
    Kata orang Tuhan tidak akan mengirimkan cobaan lebih berat dari pada yang bisa kita tanggung, tapi kataku Engkau tidak pernah mencobai aku, Engkau mencintai aku
    Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
    Tolong aku Tuhan untuk lepas dari semua pertanyaan ini, biarkanlah jawabanku terungkap, sekalipun pahit bagiku.
    Amin
    Jadi biarkanlah hal ini terjadi.


    Detak suara jam besar di ruang utama Panti menunjukan pukul 10 malam. Aku berjalan satu-satu menyusuri koridor Panti yang kata orang Angker karena bangunan kuno peninggalan Belanda. Persetan dengan setan sendiri, dari kecil aku tidak diajari takut akan setan atau hantu atau dedemit sejenisnya, justru aku diajari takut berbuat dosa dan takut akan Tuhan. Harum bunga kaca piring di halaman ruang tengah Panti menambah suasana angker makin kental. Tapi inilah saat-saat terindahku. Aku sering duduk berdoa di gua Maria di halaman tengah Panti selepas doa malam bersama di kapel Panti, ditemani gemericik air terjun kecil yang menyeruak keluar dari bawah kaki patung Bunda Maria ke kolam di tengah halaman mengantarkan suasana Lourdes saat Maria Soubirou menerima penampakan Bunda Maria. Lamunanku mengantarkan aku kedepan pintu kamar Bruder Marco. Kuketuk pintu, seperti biasa pelan namun tegas. Seorang Pria suku batak dengan tampang mirip Julius Sitanggang, penyanyi favoritku masa kecil muncul dengan perwakan tinggi tegap dan berwibawa, “Ah, Ambrochius, masuk!”, benda pertama yang kulihat adalah sebuah patung kepala Mozart di meja kerjanya. Ditariknya sebuah kursi tepat berada di depan mejanya, “Duduk!” perintahnya namun dengan suara yang ramah. Manusia ini tidak pernah berbicara panjang lebar pikirku. “Bagaimana kabarmu hari ini?” Hah! Tepat! Pertanyaan yang selalu dia ajukan untukku. “Baik Bruder” jawabku sopan. “Nah sekarang ceritakan tentang masalah kamu”, bruder Marco menyambung. Gila pikirku! Justru harusnya aku yang mengajukan pertanyaan itu. Tapi dengan nalar anak SMP seadanya aku coba menjawab “ Saya ingin tahu tentang silsilah keluarga saya Bruder”, suaraku terdengar mirip tukang minta-minta di pinggir jalan minta belas kasihan. “Apakah kamu senang tinggal di Panti?” Bruder Marco malah balik bertanya dengan tidak ada keterkaitan apapun dengan pertanyaanku sebelumnya. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Para Suster Bruder serta semua pengurus Panti karena telah mengurus kami dengan baik”, kucoba menemukan kata-kata yang kuanggap tepat untuk membuka front serta mengalihkan kembali pembicaraan ini ke topik utama.
    “Mungkin kamu tidak ingat, waktu kamu berumur tiga tahun kamu pernah tinggal di Panti ini selama beberapa hari sebelum kamu dikirim ke Panti Khusus Balita di Pondok Si Boncel Pasar Minggu”. Bruder Marco mulai bercerita, tahu bahwa aku tidak perlu basa basi, ini yang kusuka dari beliau, bukan basa basi kata iklan rokok. “Kamu pernah saya gendong bahkan pernah sekali kamu mengencingi jubah saya” kali ini pandangan Bruder Marco dihias senyum khas Batak Julis Sitanggang nya. Wajahku merona, malu, tapi apa yang anak umur tiga tahun harus lakukan? Kelewatan, pikirku, umur tiga tahun masih suka ngompol. Aku jadi ingat Marcus adik angkatanku sepanti yang kecil kelas 1 SD, dia masih suka mengotori tempat tidurnya dengan air seni yang dilukiskannya hamper tiap malam di sprei dengan segala bentuk pulau entah berantahnya. Tinggal Suster Ana yang marah-marah, kalau aku sempat aku biasa membantu mengajari Marcus untuk toilet training, sekali waktu dia malah tertawa terbahak-bahak karena pusernya aku kasih capung dengan tujuan tidak ngompol lagi, dasar mitos! Bayanganku kembali pada sosok Bruder Marco di hadapanku. “Maafkan saya Bruder” kataku seadanya. “Tidak apa-apa toh kamu masih kecil” Bruder Marco malah sedikit menyeringai sekarang, terlihat giginya yang putih rata, yah kalau aku dengan keadaanku sekarang harus menilai beliau ku beri angka 8,5 untuk kewibawaan dan kepribadiannya serta nilai 9,5 untuk ketampanannya. Pria yang hampir kepala tiga dengan kematangan dan kedewasaan yang berada pada puncak kejantanannya, menyerahkan segala keindahan fisiknya untuk mengabdi kepada Tuhan. Sungguh beruntung Tuhan. “Saat itu hampir jam 11 malam, persis seperti sekarang”, Bruder Marco meneruskan ceritanya, matanya tajam menatap ke arahku tanpa kedip namun dengan roman muka yang sejuk, “ada tangisan seorang anak di beranda depan gereja Panti, Pak Dominikus (Satpam Panti asal Flores yang masih bekerja sampai sekarang) yang tahu lebih dulu, dia mencari sumber suara itu dan dia menemukanmu menangis di halaman gereja, seseorang telah meninggalkanmu lewat pagar halaman gereja panti. Saya yang pertama diberitahu oleh Pak Dom (begitu kami memanggilnya)”. Bruder Marco berhenti sejenak, memandangku seolah mencari tahu isi perasaanku saat itu. Namun aku seolah mematung tanpa ekspresi menatap tajam kearah Bruder dengan mulut terkatup rapat. Seolah tak menemukan apa-apa di wajahku bruder Marco melanjutkan ceritanya. “Kami menghubungi polisi keesokan harinya, berharap kami tahu siapa yang telah membawaku ke sini, namun sampai sekarang kami tidak punya apa-apa untuk kamu ketahui lebih lanjut”. “Hanya ini yang kami punya”, Bruder menarik laci dibawah mejanya, mengeluarkan seuntai rosario bermanik batu giok kehijauan dari sebuah kotak kayu usang, diletakkannya dihadapanku. Entah itu Giok asli atau bukan, tapi saat kuraih rosario itu tangisku tak bisa kubendung lagi. Aku sesegukan dengan rosario ditanganku.
    Ada sekitar limapuluhan anak panti yang orang tuanya atau salah satunya masih ada, mereka tergolong kurang mampu dan biasanya anak-anak tersebut akan dirimkan kembali kepada orang tuanya selepas SMA atau bila diijinkan oleh orang tua kandung mereka maka mereka akan diangkat anak oleh orang tua angkatnya, selebihnya adalah titipan dari gereja-gereja katholik di Jakarta atau hasil hubungan gelap yang tidak diinginkan namun masih jelas status kelahiran dan asal usulnya, sisanya adalah titipan dari Panti asuhan balita serta anak-anak yang ditinggalkan di pintu panti. Ternyata aku salah satu dari mereka.
    Aku masih meratapi masa lalu di meja Bruder Marco, rosario Giok itu basah dalam genggamanku, membasahi meja tempat aku tertelungkup sedih. Entah berapa lama aku menangis, namun Bruder Marco tidak bereaksi seketika itu juga, saat pandanganku gelap aku merasakan ada sentuhan lembut di kepalaku. “Saya berharap kamu tabah dan iklas menerima masa lalumu”, suara Bruder Marco memecah kesunyian yang diiringi isak tangisku. “Sampai detik ini tidak ada seorang pun yang datang mengaku bertanggung jawab terhadapmu.” Bruder Marco beringsut dari kursinya ke arahku, diraihnya kepalaku dibenamkannya didadanya. Dalam posisi terduduk aku memang lemah dalam arti leksikal pada saat itu. Tenagaku habis, seolah aku habis menempuh perjalanan ribuan mil dengan kelelahan yang amat sangat. Kubiarkan kali ini air mataku yang membasahi jubahnya. Diciumnya kepalaku, aku merasakan ketenangan dan kehangatan yang entah berasal dari mana yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, tidak juga ketika saat suster Margaret mencium keningku pada saat dia memberi ucapan selamat ulang tahun kepaadaku. Nuansa kedamaian seorang ayah, kakak, mungkin kekasih kalau aku boleh katakan lebih dini, saat aku tengadah menatap mata nya, Bruder Marco mencium keningku, aku tenggelam dalam keharuan dan perasaan yang berkecamuk antara kenyataan yang baru saja kuterima dengan pengalaman dipeluk oleh seorang pria dewasa. Seketika aku tersadar rasa ini memang aneh dan ganjil, namun aku tak kuasa menolaknya. Sebuah kecupan hangat kembali meluncur dari bibir Bruder Marco kearah pipiku. Kali ini aku menyerah, keadaan sedih, bingung, marah, hilang, hampa, kecewa, semuanya lebur saat kedua tangan kokoh Bruder Marco menggapai wajahku dan mengecup bibirku dengan sebuah kata. . . . . “tenanglah!” entah dari mana kekuatan itu muncul, dan aku, siswa SMP dari Panti ini membalas kecupan seorang pembimbingku. Dalam hatiku berujar. Terima Kasih kau hadir dalam kehancuranku.[/center]

    TO BE CONTINUE

      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:19 pm