Yesus berkata: Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.


    Don't Give Up Chapter II

    Share

    ambrochius
    Star of Share
    Star of Share

    Jumlah posting : 33
    Join date : 21.01.09
    Lokasi : Bandung, West Java

    Don't Give Up Chapter II

    Post  ambrochius on Thu Jan 22, 2009 4:29 am

    Chapter II The Orphanance

    Bel sekolah membuyarkan lamunanku, hari ini hari pertamaku di SMP ada banyak murid baru dari anak-anak di luar panti asuhan yang baru kukenal, beberapa memang teman sekelas ku di SD, sekolah ku memang bercampur dengan anak dari luar panti walau letaknya masih di dalam kompleks panti asuhan tapi bukan karena itu aku berpikir keras. Sampai detik ini Suster Margaret belum juga mau memberikan jawaban tentang silsilah keluargaku. Kemarin sore aku bertamu ke ruangannya dan menanyakan hal itu, namun suster Margaret memberiku seribu satu nasihat tentang penerimaan diri dan kepasrahan hidup pada Yesus. Tak memberikan solusi sama sekali. Sejak kecil aku memang telah dekat dengan beliau, dari suster-suster serta bruder pengasuh panti aku tahu bahwa Suster Margaret lah yang membawaku ke panti asuhan Pondok Boncel untuk anak balita di Pasar Minggu sewaktu aku berumur 3 tahun. Seiring berjalannya waktu aku bahkan sudah dianggap anaknya sendiri. Kepindahannya ke Vincentius Putra Kramat Raya seiring pula dengan kepindahanku ke Panti Asuhan Vincentius Putra untuk anak-anak yang telah beranjak dewasa. Seringkali ada banyak pasangan suami istri yang hendak mengangkatku menjadi anaknya, namun sering kali aku meronta menangis tak kuasa berpisah dengan suster Margaret, sekali waktu sempat aku diopname selama seminggu karena demam tinggi, waktu itu sudah 3 hari aku tinggal di rumah orang tua angkatku yang baru. Pada saat suster Margaret menjenguk barulah aku berangsur pulih, dari sana orang tua angkatku menyerah dan pengurus panti sepertinya mahfum bahwa aku tidak bisa dipisahkan dengan suster Margaret. Namun mereka semua tutup mulut saat kutanya mengapa, sampai akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya langsung pada beliau, pikirku inilah saatnya kutahu siapa aku sebenarnya dan lagi pula pikirku aku sudah cukup umur untuk berhak tahu akan hal tersebut.
    “Ambrochius kamu pimpin doa pulang!” Ibu Agatha guru matematika ku memintaku untuk memimpin doa sebelum pulang.
    “Eh kuya tungguin donk!” itu suara Aldi teman sebangkuku, sobatku waktu SD, dan dia anak “outsider” begitu kami menyebut anak dari luar panti. “ Gua buru-buru Di, hari ini tugas nyiapin makan siang”, sahutku sambil pergi tanpa menoleh kearah Aldi, “Loh bukanya udah disiapin sama suster dan senior elu?” Aldi sedikit tergopoh menyusul menyamakan langkahku, “Gua kan sekarang udah di SMP Di, artinya gua sekarang senior, dan artinya pula bahwa gua harus nyiapin piring buat makan delapanpuluhan anak panti”, masih sambil menatap kearah gerbang panti aku tak menoleh sedikitpun pada Aldi. “Oh iya yah, elu udah senior. Gua punya komik Tintin yang baru, lu mau pinjem?” Dia tahu aku gemar baca Petualangan Tintin namun Aldi seperti tidak peduli dengan ketidakpedulianku. “Kenapa sih luh? Koq pusing gitu, abis dimarahin bruder ya? Apa gara-gara pelajaran bu Agatha tadi? Elu aneh deh hari ini Mbro, diem mulu”. Aku semakin tidak peduli akan ocehan Aldi dan semakin mempercepat langkahku seakan Aldi adalah gangguan bagi kehidupanku. “Di sori yah gua lagi gak mood nih, lagian banyak PR, padahal hari pertama sekolah, jadi besok-besok aja gua pinjem Tintin elu, takut ganggu waktu belajar, udah yah!” kali ini aku berlari meninggalkan Aldi yang bengong mematung ditempatnya berdiri.
    Aku bertekad sehabis makan siang ini aku akan bertanya lagi kepada suster Margaret, peduli dia mau marah atau apa, aku sudah tidak kuat menahan misteri keberadaanku ini. Miris bagiku sejak 6 tahun yang lalu melihat teman-teman sekolahku dijemput ayah dan ibunya, siksaan melihat teman-teman outsider ku merengek minta dibelikan sesuatu oleh orangtuanya sewaktu menjemput pulang sekolah. Bukan! Bukan karena aku juga ingin minta dibelikan sesuatu, tapi peristiwa bermanja dengan orang tua itulah yang membuat hatiku tercabik cabik, untung aku punya Suster Margaret, walau dia tidak pernah memperlihatkan perlakuan istimewa terhadapku di depan teman-teman pantiku, namun secara spiritual dan kejiwaan suster Margaret bisa tampil sebagai ibu yang bijak bagiku.
    Kuketuk pintu ruangan suster Margaret pelan namun mantap, ada suara yang akrab ditelingaku yang dapat membuatku tentram mempersilahkan ku untuk masuk. Namun sekakan suara itu sekarang asing bagiku. Aku berdiri mematung di depan meja kerja beliau, tanpa bicara apapun kupikir dia sudah tahu maksud kedatanganku. “Ambrochius Prawira Angkasa, bukankah ini waktunya istirahat siang?” suster Margaret menatapku dengan tegas namun penuh kehangatan seorang ibu. “Tolong saya suster” pintaku memelas sedikit menahan tangis yang semoga tidak tumpah saat itu, “saya perlu tahu, seburuk apapun atau bagaimanapun keadaan mereka saya harus tahu, toh suatu saat juga akan terungkap,” dengan suara bergetar dan perasaan yang tak bisa kugambarkan kucoba untuk tegar setegar-tegarnya, “saya hanya perlu tahu apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal, kalau mereka meninggal dimana kuburannya, dan kalau mereka masih hidup dimana mereka tinggal?” Kali ini suster Margaret tertunduk, seakan ada beribu ton palu godam yang menghantam tengkuknya. Hening. Hanya nafasku yang memburu menahan tangis yang mungkin sebentar lagi meledak. “Tidak cukupkah kasih dan perhatian yang suster dan bruder berikan padamu?” seakan suara itu berasal dari sosok Seorang Suci yang dicium oleh penghianat yang ternyata adalah muridnya sendiri yang sebentar lagi akan ditangkap di taman Getsemani, suster Margaret menatapku tajam. Aku limbung, nanar aku berkata “ Seandainya saya Sun Go Kong yang lahir dari batu saya akan merasa sangat beruntung telah hadir di dunia dan dirawat oleh para suster dan bruder disini”, aku memang suka cerita Kitab dari Timur itu, suaraku agak pecah menahan tangis, sedikit kurang ajar memang kata-kataku, “Saya hanya perlu tahu apakah mereka masih hidup atau tidak, bila mereka tidak mau menerima saya sebagai anak pun tidak masalah, yang penting saya tahu siapa mereka”, kali ini aku bisa menahan emosiku, dengan tatapan tajam kupandang kedua bola mata suster Margaret, suster yang telah merawatku dan telah ku anggap sebagai ibuku sendiri. Hening lagi. Kali ini suster Margaret beringsut dari kursinya mendekatiku, membelai kepalaku dengan keibuan, hampir aku lepas kendali untuk memeluknya menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua perasaanku padanya. Namun aku terbiasa dididik tegar dan menjaga jarak dengan suster Margaret. “Mungkin sudah saatnya kamu tahu”, suster Margaret memandangku penuh kasih, “namun bukan dari suster. . . tapi dari Bruder Marco!” Seakan dunia ini dijungkir balikkan, kenapa pula Bruder Marco ikut campur dalam urusan masa laluku? Bruder Marco, Bruder pengajar seni musik serta paduan suara Panti. Bruder tegas dan berwibawa, dia tidak pernah berbicara lebih dari 3 kalimat pendek kepadaku selain sapaan “apakabar” atau “bagaimana kabarmu hari ini” ketika kami berpapasan di selasar panti. Aku masih bingung dengan pernyataan suster Margaret. “Nanti malam setelah Doa Malam kamu bisa datang ke ruangan beliau, suster akan buatkan janji untuk kamu, sekarang istirahatlah, nanti sore ada pelajaran” suster membimbingku keluar ruangannya. Di Panti Asuhan kami memang mendapatkan pelajaran tambahan di sore hari, pelajaran agama katholik, musik, bahasa inggris, dan pertukangan serta computer bagi yang telah senior.

    TO BE CONTINUE

      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:20 pm